Pernikahan Ala Makassar

Sebenarnya, saya sudah lama mau nulis ini tapi mau diapa lagi, virus kemalasan paling maksimal sedang menimpaku dengan sangat tidak manusiawi.

Album keluarga. Salah satu contoh sebelum akad nikah, kalau yang ini adat Makassar vs Jawa. #Sarisnen #wedding

Keluarga Thamal. Sebelum akad Nikah

” style=”width: 548.15625px;

Saya tidak mengenal beliau daripada apa yang saya sangkakan.

Seorang pengemban dakwah yang membiarkan kebenaran yang ia tahu menari dengan bebas bersama pena.
Saya masih ingat kajian yang beliau sampaikan 2012 lalu, waktu itu saya dan Fernizha Mentari Ramli duduk di lantai dua gedung serbaguna Unismuh, dengan nada khasnya menyampaikan sesuatu, ia berkata, “Dasar dari keberanian adalah kebenaran. Maka sulit berani jika itutak benar”

Sumber Foto: tribunislam.com

Di tulisan ini, saya sedikit ingin menyampaikan bahwa gaya tulisan pertama saya, saya dapatkan dari beliau. Setelah benar-benar terjun di dunia kepenulisan, buku yang bertender dalam rak buku hanyalah tulisannya. Jangan ditanya kenapa, karena saya akan kesulitan menjawab itu.

Yang saya tahu, dan yakini sampai saat ini, beliau terjun di dunia dakwah dengan tidak main-main. Menjadikan remaja fokus utamanya hingga melahirkan buku kekinian yang bisa disantap anak muda dengan begitu lezat #UdahPutusinAja misalnya. Buku bercover pink yang begitu mencolok di mata dan makjleeb di hati.
Banyak hal yang terjadi, dan saya mengenalnya di waktu yang tepat. Hal di mana drama-drama hidup mulai kukenali. Kegagalalan, kegalauan, kebahagiaan, kemungkinan-kemungkinan hidup yang tidak pernah kupikirkan tapi terjadi, ah its a complicated year. Ngeri. Tapi karena itu, saya semakin kenal diri sendiri, dan senang dengan tulisan, kajian, vlog, atau apapun yang berkaitan dengan Ust. Felix.
Ustadz, dalam keberanianmu itu, semoga Allah limpahkan berkah dan terus berikan jalan kebenaran, Indonesia butuh lebih banyak orang sepertimu, yang mencintai negerinya dengan berani, dengan cara yang benar.
Tulisan ini terinspirasi dari: artikel http://www.tribunislam.com/2017/05/felix-siauw-jangan-ragukan-cinta-kami-pada-negeri-kami-mencintainya-seperti-rasulullah-mencintai-tempat-lahirnya-makkah.html

Berani-Benar (Ust. Felix Y. Siauw)

Bulan Sebelum juni

Kau mengendap-endap menuju rumahmu. Bahkan bernapas pelan agar tak ada yang merasakan kehadiranmu. Tapi mau diapalagi, aku adalah pengagummu, yang setia memerhatikanmu.

Sudah beberapa bulan dan kau masih seperti itu.
Bulan sebelum juni, ada yang harus kau ketahui, bahwa ada hal yang tidak akan baik-baik saja jika kau selau tak percaya diri.

Bulan Sebelum Juni.

Dalam kekagumanku yang terlalu padamu. Aku tidak sadar bahwa kau pun bisa seperti itu. Melalukan kelakuan orang “biasa” sedang dalam pikirku kau begitu istimewa, dan takkan melakukan orang biasa melakukannya.
Percayalah pada pilihanmu. Jangan bersembunyi, aku akan baik 🙂

Memang Bukan Tempatku

​Saat aku menghias diriku dengan ucapanmu

aku berlari mencari rindu yang katanya ada aku

saat kau ada di depanku

kusadari kebodohan yang memenjarakanku.


Matamu berbicara padaku,

“Rumahmu bukan di sini.”

Seperti Pohon dan Lampu Jalan

Aku adalah pohon yang mencintai lampu jalan tapi tak terbalas.

Sesekali kucuri waktu tuk meliriknya. Sekali, duakali, tigakali. Tubuhku berdebar, bak diempas angin kencang dengan terlalu. Ah, ini debar atau gempa?

Continue reading

Tulisannya Orang

Selamat pagi hari cerah, semangat pagi jiwa yang bahagia.

Sayang, pikiranku sedang dimondar-mandirkan sama tulisan hilang di draft gmail. Hiks. Setelah otak atik ponsel, malah tulisannya si akaks yang di dapat.
Tulisan 2015 lalu, bulan ke sebelas tanggal 15. Walau tulisannya tidak sebagus aku (somboong parah hahaha) biarkan kumasukkan dalam blog bertahtahkan pujian ini. Wkwkw. Maafkan. Aku sedang di fase sombong ketidaktulungan :v

” style=”width: 548.15625px;

Sunrise & Sunset di 26, Rabu

Ini (lagi-lagi) aktivitas tercepatku selain jogging pagi.

Untuk kamu dan dia (re: hari ini dan matahari) yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Aku suka!
Pada tatap belagumu diufuk timur yang mulai terbit, kau menemaniku menuju kompas tv untuk promo buku #diary7kurcaci.

Pukul 08:00 di tabletku, aku bersemangat mengarungi macet, mengalahkan jarak menuju Samata. Tak lain dan tak bukan untuk melihat teman “ndalangg” ujian hasil. -jangan tanya saya kapan-  kau tidak pernah tau ushaaku untuk keluar dari lembah itu T.T  -ets sudah.
Pada tatap tajammu, kau masih tak ragu menerangi jalanku ditengah hari. 14:19 wita. Sedang kamu masih seperti itu, menemaniku dengan mata elang siap menyergap. Fanas feroooh.
Warkop Ammaca. Penulisan Kreatif ala Kurcaci di Buku Diary 7 Kurcaci.

Tips menulis. Ini wajib kalian ketahui. Etsss, sebelum itu, aku mau mengucapkan terimakasih yang pertama, buat owner Warkop Ammaca, Kak Yusuf yang sudah memfasilitasi. Teman-teman yang menyempatkan hadir, mc guaaah yg “nganu” sekali jugaaakk, laafyaaa, daaaaaaan tak kalah menggirangkannya -ini bahasa apa- untuk hampir 1000 viewers yang nonton di live IG aaaah makasiiih yaaaakkk💕

Srikandi d7k


Okay, kembali ke tips menulis ala kurcaci keempat #uhuk @dardawirdhaa

Pertama, pastikan kamu punya alat tulis

Kedua, pastikan kamu punya pikiran

Ketiga, ketika kamu punya keduanya, coba cek perasaanmu, apa baik? Kau tidak punya perasaan? Jangan khawatir, coba cek pikiranmu, apa baik? Kau tidak punya pikiran? Daebak! Kamu pantas jadi penulis.

Heh! Kok? Setidaknya aku percaya kamu #ciee percaya karena hanya orang yang ingin jadi penulislah yang baca tips ini sampai di kata ini :V h a h a

Keempat, menulis sajalah! Jangan banyak mikir.

Kelima, selamat menulis. Wkwkwkwkwkwkkwkwkwkwk.
18:08 wita. Aku pulang pada teduh mata(hari) yang menyipit di ufuk barat. Kamu tahu makassar yakan? Ini bukan soal begal. Sejatinya Ayahku lebih menakutkan dari itu #eh *sungkem Ayah* i love you. Hahaha.
ALHAMDULILLAH. Untuk hati yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Aku suka.

Senin Pagi

Senin Pagi di Desaku
Suara kambing memecah ketenangan pagiku. Di ujung sana, ada seekor, hmm.. dua ekor barangkali, ah entahlah. Dia teriak seakan butuh bantuan. Suara kokok ayam saling bersautan di mana-mana. Rumah warga cukupsaling berdekatan, kecuali tempayku duduk saat ini. Senandung burung masih berkicau dengan merdu, suara jangkrik juga. Ah kampung, kau begitu kampuangan tapi selalu berhasil membuat orang yang mengaku anak kota ini rindu.
Haccciii. Bersinku diikuti asap yang keluar tanpa permisi dari mulutku. Ya, suhu dipagi ini 19°. Pastinya tidak akan sama dengan suhu AC yang sering kita jumpai di ruangan perkotaan. Dingginnya mengetuk-ngetuk tulangku.
Khayalanku melambung tinggi bersama kenangan di sudut jalan itu, eh.. genangan.

Kenangan dan genangan punya sekat tipis, walau di keyboard butuh dua langkah huruf untuk saling menyapa (h dan j). Kenangan, ah, kenangan.
Ia menggelitik pikiranku hingga sampai detik ini aku masih betah menuliskannya.
Masa kecilku di sini. Hidup bahagia dengan keempat saudara (waktu ini Seza belum lahir), satu sepupu, ayah, ummi, dan dato (panggilan nenek). Hidup bahagia di masa kecil yang tak kenal gadget. Lompat tali, main dende (ini bahasa indonesianya apa yak :v), main rumah-rumahan yang uangnya dari daun bunga-bunganya ummi, sampai berakhir kalau pohonnya sudah tak berdaun, Ummi pun teriak-mengomel. Hahaha.
Masa sekolah dasar kuhabiskan di sini, menikmati ritme kebahagiaan ala anak kecil yang tidak paham problematika orang tua, dan apapun di sekitar. Benar. Aku jadi anak kecil yang pure sebagai anak kecil. Aku tidak perlu membuat makalah kanker serviks sebagai tugas mata pelajaran biologi di kelas 5 atau 6. Aku hanya harus bersekolah senin-sabtu, mengaji di waktu sore, lalu bermain sepuasnya. Di sini aku merasa beruntung tapi buntu. Hahaha. Yang kupercaya, jika Ayahku ada, semuanya akan baik. Aku anak Ayah yang tak pernah berpisah.
Pukul 07:04 di tabletku. Kau tak usah khawatir menyoal dapur. Aku adalah perempuan (penulis) paling beruntung seantero Malakaji. Ummiku adalah orang paling pengertian yang ada di muka bumi ini. Tak pernah menggagu imajinasiku saat jariku mulai menari diatas tebi atau lepi (ini panggilanku untuk tablet dan laptop berwarna putihku).
“Yaaaang..” suara cempreng itu membuyarkan khayalanku. Aku membalikkan wajah lalu tersenyum. Perempuan dengan baju hangatnya mendekatiku dengan membawa anak kecil gempal berpipi pakbao yang selalu berhasil kubuat menangis karena menyubiti seluruh tubuhnya.
Dia adalah sepepu yang kutuliskan tadi. Sepupu yang telah bersamaku tinggal di sini. Sepupu yang kuhabiskan masa kecilku dengan menyusakan dirinya. Hahhaa. Untuk ini, maafkan. Semoga dengan menuliskanmu bisa jadi penebus. Setidak-tidaknya tentang keberadaanmu di dunia jadi terabadikan. Hahahha. Namanya kak Tenri. Lebih sering di panggil bonda iting. Wkwkw.

Seperti utulah dia. Datang hanya merusak konsentrasiku lalu pergi meninggalkan dalam kesendirian. Pft.
Aku kembali menyatu dengan alam. Sekarang 07:26 wita, suhu menjadi 20°. Hanya beda satu derajat tapi kurasa ini lebih dingin, apa karena kau tak ada di sini, kak? Eh!!! Kakak siapa??? Kak tenri? Iyuuh-_- *mulai ngawur. Brrr.
Di sini, senin jadi hari temu warga seantero Malakaji, semua yang ada di pelosok-pelosoknya jadi bekumpul di satu tempat untuk membagi-bagikan uangnya. Huoooo sebut itu pasar. 

Sinar matahari telah tak malu menampakkan dirinya tepat di wajahku, suara kendaraan telah berhasil memecah riuh alam secara alami, dan aku sudah sejam berada di luar rumah. Perutku bersiap dengan konsernya. Aaaah, ada yang mulai lapar. Ayo hentikan semua ini sebelum negara cacing mulai rese.

Tungguuuu duluuuu. Satu paragraf lagi.

Ehm. Terkadang, kau butuh kembali ke tempat yang mengingatkanmu ke masa lalu. Bukan untuk menangisinya, tapi sebagai tanda kau pernah hidup dan ada di sana, Allah bekerja dengan sangat baik dari dulu-sekarang, memastikan kebaikan dan keberkahan melimpah-Nya meruntuhi kepalamu. Sampai kau ada di sini, untuk berbahagia dan lagi-lagi diwajibi rasa syukur. 

ALHAMDULILLAH.

Allahummah shalli’alaa Muhammad wa’alaa Ali Muhammad.

Aku (Tak Ada) di Matamu

Setelah aku menerkamu sebagai doa, tabir penghalang pertemukan kita. Takdir bersama berpihak pada kita. Saling berbalas senyum lalu jatuh cinta.

Sejak saat itu, doa kebaikan untukmu mengalir deras. Perbincangan tentangmu jadi paling menarik. Kau bagai embun di pagi hari,  tak segan menyejukkan diri walau sendiri.
Pada masa depan yang tak bisa diatur. Mungkin akan ada takdir menyebalkan. Lalu kita dipaksa untuk berpisah. Di waktu itu, semoga kau apalagi aku, sadar, kita hanya dituntut mengubur pengharapan, bukan mengubur ingatan lalu saling melupakan.

Tuan yang sebelumnya tak bernama,

Continue reading

Seperti Daun

Aku tumbuh dan hidup karenamu. Dalam dekap pedulianmu, aku aman dan berbahagia.

” style=”width: 548.15625px;

Istri Muda

Istri Muda's Stories | Indonesian | 21 years old

Catatan Perjalanan Hidupku ^^

Karena setiap detik perjalanan hidup adalah pelajaran, dan akan menjadi kenangan yang akan selalu membuatmu bersyukur :)

arianpangestu

Kuasa Tuhan sedang berlangsung

charlozdaniel

"Lelaki yang selalu kagum ketika melihat kau tersenyum"

Lani Utami

Tentang kamu, tentang kita dan tentang mereka

asteaaa

Self Reminder

wirawarawiri

Just follow the GOD and you"ll be the GOOD

Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

ComeDHEY

Setiap Luka adalah Tawa