Category Archives: Quote

Perbesar Harapan pada Yang Maha Besar

Hal-hal luar biasa sulit kita dapatkan karena kita kekurangan percaya pada yang Maha Memberi.
Kamu tahu? Muhammad Al-Fatih di usianya yang masih muda sudah menaklukkan Konstatinopel. Hei! Ini Konstatinopel loh. Jadi, kalau cuma sekolah, mau ini, mau itu, cukup mudah bagi Allah. Allah akan memberikannya padamu, pada hamba-Nya, dengan catatan, hanya dan untuk hamba-Nya yang percaya pada-Nya dengan sepenuh dan segenap jiwa. 
Di salah satu kesempatan yang Allah berikan padaku, aku masih ingat perkataan Ust. Felix Y. Siauw ia bertanya pada audiens, “kenapa disaat ini kita susah mendapatkan hal besar?.” Saya menoleh ke kiri-kanan berharap ada yang bisa kutiru jawabannya, namun nyatanya tak berhasil. Ustad Felix menjawab setelah menunggu jawaban dari kami, ia pelan berkata namun lantang, “karena kita tidak percaya pada Yang Maha Besar dengan kepercayaan yang besar.” 


Sulit untuk mendapatkan sesuatu karena kita masih melogikakan Allah dalam mendapatkan sesuatu. Padahal, Allah tak perlu itu, kita hanya perlu percaya pada-Nya, dan berkatalah Ia, KUN FAA YAKUN, jadi maka jadilah. Tapi lagi-lagi, tak ada yang bisa terjadi dalam kehidupan kita karena kita terlalu bergantung pada diri kita yang serba terbatas, melupakan Kebesaran Allah yang sungguh-sungguh Maha Besar.
Menggantungkan keinginan pada apa yang ada dalam kepala lalu lupa bahwa Allah memberi bahkan tanpa kita pinta, memberi yang terbaik melebihi yang kita duga.
Allah, ya Allah.. ampunkan hamba-Mu ini yang terkadang tak bersifat dan bersikap selayaknya hamba.

Astaghfirullah al’adzim. Allahummah shalli’alaa sayidina Muhammad wa’alaa ali sayidina Muhammad.

Catatan Ramadhan Hari ke-7 (di PihakNya)

Tidak ada yang benar-benar memihak padamu.

Takdir, waktu, atau apa pun berjalan sekendak-Nya
Tidak ada waktu yang akan berjalan lambat untuk mencegahmu dari bahagia dan mengurungmu pada situasi menyebalkan

Tidak ada waktu yang akan berjalan cepat karena perasaan paling bahagia yang kau rasakan dalam detak jantungmu yang senang.


Selalu seperti itu.

Melangkah, meniti  sesuai perintah-Nya, bukan perintahmu.

Tapi tenang, tak perlu khawatir, Dia takkan mendzalimi. Berjalan sekehendak-Nya tak berarti akan ada yang diuntungkan. Bahkan jika kau menyerahkan seutuhnya pada-Nya, kamu akan untung sampai tidakketulungan. Kebaikan-Nya meliputi segalanya, dan sebaiknya kepermihakan adalah kamu yang berpihak pada-Nya, menyerahkan seutuhnya kepada-Nya.

Lalu, apakah kau harus diam dan menerima semuanya? Tidak juga. Allah memerintahkanmu untuk berdoa pada-Nya. Allah menyuruhmu untuk bersangka baik pada-Nya.
Berpikir baiklah. Bersikap baiklah. Semua kebaikan akan meliputimu karena kehendak-Nya. Allahummah shalli’alaa Sayyidina Muhammad wa’alaa ali sayyidina Muhammad

Catatan Ramadhan Hari Ke-5

Sikapmu, menentukan kebahagiaanmu,

Kamu mungkin belum menyadari bahwa kebahagiaan sebenarnya begitu dekat denganmu, hanya saja, kau terlalu sibuk mencari, matamu mengerjap kemana-kemari, padahal ia ada didekatmu, tepat pada sikapmu sendiri.
Bahagia.

Kau bisa mendapatkannya di mana-mana. Termasuk pada sikapmu sendiri, bahasamu sendiri, dan segala sesuatu yang bermuara padamu.
Coba praktikkan, sebab di dunia ini, Tuhan Maha Baik selalu memberimu pilihan-pilihan terbaik. Marah pada sesuatu yang tidak sesuai di kepalamu, atau menyukurinya. Membentak pada sesuatu yang diluar dari keinginanmu atau berkata lembut lalu membiarkan semuanya terjadi. Melihat sinis atau meremehkan orang lain padahal bibirmu masih bisa tersenyum, matamu masih bisa melengkung memesona.

Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Sebelum kau membentak, sebelum kau menatap sinis, sebelum semua kelembutan kau sepelehkan, pahamilah bahwa semua orang punya hak seperti kau punya hak u tuk mendapatkan perlakuan baik 🙂

Tanya Diri

Tahukah kau? Saat kau merasa tak berharga, ada orang yang berharap ada diposisimu?
Tahukah kau? Saat kau tak peduli dengan siapapun, ada seseorang yang memanjatkan doanya untukmu?

Tahukah kau? Saat kau merasa tak ada lagi harapan, orang tuamu hanya berpikir kaulah harapannya?

Ketika ada yang mengecewakanmu, tahukah bahwa Allah terus bersamamu? Memastikan yang terbaik untukmu?


Kau terlalu sibuk dengan ketidaksesuaian yang ada di kepalamu. Sibuk dengan dugaan-dugaan yang terus tumbuh dibenakmu. Mondar-mandir dengan segala hal yang sebenarnya tidak terjadi.

Berhentilah menyakiti dirimu sendiri dengan prasangka, hentikan semua kegelisahan yang mengepung hatimu.

Kembalikan semua pada Sang Pemilik Jiwa.

Semoga ramadhan mengembalikanmu menjadi Fitrah.

Memelukmu hinggah tumbuh menjadi hamba yang bertakwa.

Aamiin.

Saya tidak mengenal beliau daripada apa yang saya sangkakan.

Seorang pengemban dakwah yang membiarkan kebenaran yang ia tahu menari dengan bebas bersama pena.
Saya masih ingat kajian yang beliau sampaikan 2012 lalu, waktu itu saya dan Fernizha Mentari Ramli duduk di lantai dua gedung serbaguna Unismuh, dengan nada khasnya menyampaikan sesuatu, ia berkata, “Dasar dari keberanian adalah kebenaran. Maka sulit berani jika itutak benar”

Sumber Foto: tribunislam.com

Di tulisan ini, saya sedikit ingin menyampaikan bahwa gaya tulisan pertama saya, saya dapatkan dari beliau. Setelah benar-benar terjun di dunia kepenulisan, buku yang bertender dalam rak buku hanyalah tulisannya. Jangan ditanya kenapa, karena saya akan kesulitan menjawab itu.

Yang saya tahu, dan yakini sampai saat ini, beliau terjun di dunia dakwah dengan tidak main-main. Menjadikan remaja fokus utamanya hingga melahirkan buku kekinian yang bisa disantap anak muda dengan begitu lezat #UdahPutusinAja misalnya. Buku bercover pink yang begitu mencolok di mata dan makjleeb di hati.
Banyak hal yang terjadi, dan saya mengenalnya di waktu yang tepat. Hal di mana drama-drama hidup mulai kukenali. Kegagalalan, kegalauan, kebahagiaan, kemungkinan-kemungkinan hidup yang tidak pernah kupikirkan tapi terjadi, ah its a complicated year. Ngeri. Tapi karena itu, saya semakin kenal diri sendiri, dan senang dengan tulisan, kajian, vlog, atau apapun yang berkaitan dengan Ust. Felix.
Ustadz, dalam keberanianmu itu, semoga Allah limpahkan berkah dan terus berikan jalan kebenaran, Indonesia butuh lebih banyak orang sepertimu, yang mencintai negerinya dengan berani, dengan cara yang benar.
Tulisan ini terinspirasi dari: artikel http://www.tribunislam.com/2017/05/felix-siauw-jangan-ragukan-cinta-kami-pada-negeri-kami-mencintainya-seperti-rasulullah-mencintai-tempat-lahirnya-makkah.html

Berani-Benar (Ust. Felix Y. Siauw)

Tulisannya Orang

Selamat pagi hari cerah, semangat pagi jiwa yang bahagia.

Sayang, pikiranku sedang dimondar-mandirkan sama tulisan hilang di draft gmail. Hiks. Setelah otak atik ponsel, malah tulisannya si akaks yang di dapat.
Tulisan 2015 lalu, bulan ke sebelas tanggal 15. Walau tulisannya tidak sebagus aku (somboong parah hahaha) biarkan kumasukkan dalam blog bertahtahkan pujian ini. Wkwkw. Maafkan. Aku sedang di fase sombong ketidaktulungan :v

” style=”width: 548.15625px;

Surat Untuk Aleppo

Untuk saudaraku di Aleppo, maaf, aku sibuk.


Di negeri tropis, akhir tahun jadi musim penghujan. Di negaramu, sampai akhir tahun ini, kau masih dihujani peluru dan beberapa sekutunya yang sangat bisa memorak-porandakan rumahmu, memaksamu untuk terlepas dari rasa aman. Atas nama kemanusiaan, doa, donasi, dan postingan bercerita tentangmu. Atas nama kedamaian, kau malah berkenalan dengan rudal, kedamaianmu dijajah lalu menyelimutimu dengan ketakutan.


Postingan tentangmu yang menyeruh kami(aku) untuk membantumu betebaran dimana-mana, namun sayang, aku terlalu sibuk dengan rasa aman yang disediakan negeriku, aku terlalu asik dengan duniaku yang menawarkan masa depan yang baik, dan aku masih terlalu sibuk dengan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sampai membaca dengan detail beritamu pun aku sungguh dikejar waktu.


Tolong, maklumi aku.

Aku saudaramu yang begitu banyak kegiatan. Urusan pribadiku amatlah banyak, semuanya seakan menghantuiku untuk disegerakan penyelesainnya.


Sekali lagi, tolong, maklumi aku.

Kebutuhan pribadiku masih sangatlah banyak, sehingga sulit untuk menyisihkannya untukmu. Jadwalku teramat padat, sehingga kesulitan untuk mendoakanmu.


Ditengah gemuruh, dentuman keras yang sudah terbiasa kau dengar, kau kehilangan rumah, bahkan harus berpisah dengan kakak, adik, atau ayah, atau mungkin ibumu, atau mungkin semuanya? Ah.. saudaraku, kupikir akulah yang harus memintamu, bersujud dihadapanmu untuk meminta didoakan agar diampunkan dosaku yang jadi penyebab bersekatnya kita dalam persaudaraan.


Dari saudaramu, Wirda.

Pelajaran yang bisa diambil dari penonton bola adalah, kita terlalu mudah meremehkan usaha orang hanya karena diluar dari harapan kita terhadapnya.

Padahal, jika kita berada diposisi orang yang diremehkan, kita belum tentu bermain lebih baik daripada dia. :v

–  tulisan langsung dari ruang tengah keluarga yang habis heboh-hebohan karena pertandingan bola Indonesia-Vietnam.

Gara-gara Bola

Dear, Pak..

​Saya bukan untuk mereview. Entah kuposting dan tulis ini sebagai bentuk apa, yang dipikiranku saat ini, “Bisakah saya seperti, Bapak?”
Dear, warek 4 UIN Alauddin Makassar.

Perkenalkan, saya Wirda. Mahasiswi Bapak yang sekarang berdiri lemas dipenghujung semester 7 dengan harap-harap cemas keberangkatan KKN yang entah dengan gerbang ujian proposal sesekali mengintipku meminta pertanggungjawaban.

Sebagai anak yang tak biasa hidup tanpa orang tua, sebagai makhluk sosial yang kurang ilmu sosialisasinya dikampung, maka pengharapan ditempatkan di desa yang tak terlalu desa sangat-sangat kuimpikan.

Apa ini sebuah permintaan? Apa tulisan ini adalah caraku untuk memelas? Ah tidak. Bahkan seketika ada dipikiranku, mungkin, kalau tulisan ini sampai ke bapak, saya akan ditempatkan di desa paling desa binaan UIN. Wkwkwkw. Jangan ya, Pak. Jangan kodong :v
Eh malah curhat KKN :v
Sebenarnya begini Pak, waktu itu, selasa pagi di perpustakaan FDK. Hari dimana saya berniat mengurus surat bimbingan. Setelah meminta surat rekomendasi dari staf jurusan, saya pun bergegas ke ruangan wadek 1. Sayang, beliau sedang tidak di tempat. Saya dan teman (sebut saja @dhiana_jasmin) membelokkan niat menuju perpustakaan umum. Lagi, planning kami dipatahkan karena hujan turun dengan derasnya, lalu, perpustakaan fakultas jadi jalan keluar ketidakadaan arah dan tujuan selain ke wadek hari itu.

Sesampai disana, saya mendengar suara yang mirip dengan bapak, mengira dibohongi, dengan semangat saya menuju sumber suara, dan ternyata benar! Saya salah orang.
Karena salah orang dan jadi salah tingkah, saya seketika berbelok disalah satu rak buku. Di sana, buku Bapak seakan melambaikan tangan untuk dibaca. Saya pun mengambil dengan rasa percaya diri. Lalu pura-pura melupakan “kecele” yang baru saja kualami.
Mencari tempat duduk paling pas untuk membaca, kupilih dekat jendela dengan sesekali melihat kearah luar, air hujan yang tak pernah ragu terjatuh kulirik lirih. *mendramatisir keadaan.
Kubaca cover bukumu, Pak. Aku bertanya, bukankah pemborosan menulis nama sampai duakali? Ah sudahlah.

Kubuka lembaran pertama, membaca semuanya dengan saksama. Semuanya. Ada sambutan rektor di lembar kedua, mengutip quote dari Mario Teguh yang kini lagi senter dibicarakan karena tidak mengakaui anaknya. Lalu kubuka lagi, kata pembuka darimu, Pak.
Kubaca dengan lebih tenang, dengan lebih memposisikan diriku berada di situasi manunggal saat Bapak dianugerahi sebagai Guru Besar.
Pak, tulisan hadir karena ada hal yang ingin disampaikan. Atau beberapa hal karena adanya kecemasan, atau karena adanya suatu masalah, atau.. ah..setiap orang punya latar belakangnya masing-masing. Pun dengan tulisan ini, Pak.
Bukan. Bukan kecemasanku pada penempatan KKN, atau betapa lamanya waktu KKN itu, atau.. betapa hakku sebagai anak dipaksa meninggalkan hangatnya dekapan rumah untuk keluar dan merasakan dingin (entah karena disinisi atau memang cuaca) menghapus kewajiban demi sebuah titel..
Tapi begini Pak, apa iya, saya bisa seperti bapak? Mendapat kepercayaan dan keberuntungan untuk kuliah di luar negeri, mencicipi betapa dibanggakannya sebagai seorang anak yang begitu prestasi tanpa harus merasakan menjual pawa disekolahan, membantu ibu disawa, harus menumpang kerumah keluarga, menghitung penuh pelit pengeluaran, memasak ikan mairo diatas nanakan nasi, menaiki kapal kelas ekonomi yang bisa buat kembung, atau harus menumpang di burung besi “hercules” milik Bapak Tentara karena tidak punya ongkos pulang?
Kekagumanku bertambah seiring halaman demi halaman bertambah banyak dan akan selesai kubaca. Tapi, bisa kupercaya, takkan selesai kekagumanku padamu, Pak.
Tekadmu untuk belajar sama sekali tidak kuwarisi, saya adalah si rajin. Rajin tidur, ngemil dan mengkhayal. Bercita-cita keluar negeri untuk melanjutkan magister atau hanya sekadar selfie pun sulit kubedakan. Berharap ada ditengah lapangnya serutan es yang jatuh dari langit untuk mencari ilmu atau sekadar bergengsi berada ditempat jauh dan dieluh-eluhkan keluarga atau teman, yang lagi… sulit kubedakan.
Saya tidak lahir dari keluarga yang kaya raya, yang bisa bebas memilih luar negeri tanpa  hambatan biaya, pun bukan dari mereka yang serba keterbatasan yang untuk makan pun masih berpikir bisa atau tidak. Maha Mulia Allah, karena jika saya berada disalah satu dari keduanya, saya mungkin takkan menulis ini. Entah karena sibuk menghabiskan uang orang tua, atau sibuk mencari biaya untuk mereka.
Atau.. begini Pak, apa iya, saya bisa seperti Ibu Tini? Yang akan didatangi rumahnya oleh keluarga jauh untuk melepas lelah karena perjalanan jauh, kemudian dilirik dan dijadikan istri? Yang kelak, akan dibawah suaminya ke luar negeri untuk menemaninya kembali sekolah? Tepat seperti Bapak yang meminang Bu Tini sebelum berangkat ke Australia?. Hahaha. *dramaqueennya kambuh*

Kupikir, itu cara jitu untuk keluar negeri selain ketidakpercayaan diriku menghadapi tes-tes yang sudah dijelaskan Bapak, yang bisa buat diare :v wkwkwkwk


Terlepas dari itu, bisakah saya yang tidak begitu rajin belajar ini juga jadi Guru Besar termuda versi perempuan? Huaaah. Aamiin ‘allahummah aamiin :3


Pada kecemasan masa depan dan kekagumanku padamu, Pak Hamdan Juhannis. Saya hanya ingin mengucapkan, terimakasih sudah melahirkan buku ini! 🙂

Ada hal yang memang perlu untuk dirahasiakan. Bukan karena tidak penting, melainkan, dengan kerahasiaannya, kita diajarkan untuk tenang lalu hidup penuh harapan.

Mungkin Itu Lebih Baik

Istri Muda

Istri Muda's Stories | Indonesian | 21 years old

Catatan Perjalanan Hidupku ^^

Karena setiap detik perjalanan hidup adalah pelajaran, dan akan menjadi kenangan yang akan selalu membuatmu bersyukur :)

arianpangestu

Kuasa Tuhan sedang berlangsung

charlozdaniel

"Lelaki yang selalu kagum ketika melihat kau tersenyum"

Lani Utami

Tentang kamu, tentang kita dan tentang mereka

asteaaa

Self Reminder

wirawarawiri

Just follow the GOD and you"ll be the GOOD

Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

ComeDHEY

Setiap Luka adalah Tawa