Category Archives: Quote

Tentang Berubah 3

001_PRD_2017.03.01-49_1024x1024

https://wirdatrihasfi.wordpress.com/2017/10/16/tentang-berubah-2/

Bagaimana? Jadi benar kan? Kita tidak bisa menyamakan akhlak dan syari’at  seseorang. Apalagi menjadi alasan kita untuk tidak melakukan perintah-Nya secara kaffah. Seperti:

-alhamdulillah udah pakai jilbab syar’i eh.. tapi kok masih pacaran? Continue reading

Advertisements

Tentang Berubah 2

001_PRD_2017.03.01-49_1024x1024

.. Setelah si Naya melayangkan pertanyaan (lagi) tentang pengertian keduanya (syariat dan akhlak) saya menuliskan dengan singkat dan sebisa mungkin bisa dimengertinya. Di buku Muliadi tadi, beliau mengklasifikasikan materi dakwah dalam tiga masalah, yaitu: Continue reading

Tentang Berubah

001_PRD_2017.03.01-49_1024x1024Bismillahirohmanirrohiim

Waktu sudah menunjukkan pukul 06:14 di nepiku (re: notebook) sehabis halat subuh saya terngiang-ngiang pertanyaan seseorang semalam.

Ini—mungkin, akan terbaca begitu subyektif. Yaa tapi emang doski mintanya pendapatku. Wkwkwkw

Tentang apa? Yuk mari dibaca ^^

Tentang Berubah.. Continue reading

Perbesar Harapan pada Yang Maha Besar

Hal-hal luar biasa sulit kita dapatkan karena kita kekurangan percaya pada yang Maha Memberi.
Kamu tahu? Muhammad Al-Fatih di usianya yang masih muda sudah menaklukkan Konstatinopel. Hei! Ini Konstatinopel loh. Jadi, kalau cuma sekolah, mau ini, mau itu, cukup mudah bagi Allah. Allah akan memberikannya padamu, pada hamba-Nya, dengan catatan, hanya dan untuk hamba-Nya yang percaya pada-Nya dengan sepenuh dan segenap jiwa. 
Di salah satu kesempatan yang Allah berikan padaku, aku masih ingat perkataan Ust. Felix Y. Siauw ia bertanya pada audiens, “kenapa disaat ini kita susah mendapatkan hal besar?.” Saya menoleh ke kiri-kanan berharap ada yang bisa kutiru jawabannya, namun nyatanya tak berhasil. Ustad Felix menjawab setelah menunggu jawaban dari kami, ia pelan berkata namun lantang, “karena kita tidak percaya pada Yang Maha Besar dengan kepercayaan yang besar.” 


Sulit untuk mendapatkan sesuatu karena kita masih melogikakan Allah dalam mendapatkan sesuatu. Padahal, Allah tak perlu itu, kita hanya perlu percaya pada-Nya, dan berkatalah Ia, KUN FAA YAKUN, jadi maka jadilah. Tapi lagi-lagi, tak ada yang bisa terjadi dalam kehidupan kita karena kita terlalu bergantung pada diri kita yang serba terbatas, melupakan Kebesaran Allah yang sungguh-sungguh Maha Besar.
Menggantungkan keinginan pada apa yang ada dalam kepala lalu lupa bahwa Allah memberi bahkan tanpa kita pinta, memberi yang terbaik melebihi yang kita duga.
Allah, ya Allah.. ampunkan hamba-Mu ini yang terkadang tak bersifat dan bersikap selayaknya hamba.

Astaghfirullah al’adzim. Allahummah shalli’alaa sayidina Muhammad wa’alaa ali sayidina Muhammad.

Catatan Ramadhan Hari ke-7 (di PihakNya)

Tidak ada yang benar-benar memihak padamu.

Takdir, waktu, atau apa pun berjalan sekendak-Nya
Tidak ada waktu yang akan berjalan lambat untuk mencegahmu dari bahagia dan mengurungmu pada situasi menyebalkan

Tidak ada waktu yang akan berjalan cepat karena perasaan paling bahagia yang kau rasakan dalam detak jantungmu yang senang.


Selalu seperti itu.

Melangkah, meniti  sesuai perintah-Nya, bukan perintahmu.

Tapi tenang, tak perlu khawatir, Dia takkan mendzalimi. Berjalan sekehendak-Nya tak berarti akan ada yang diuntungkan. Bahkan jika kau menyerahkan seutuhnya pada-Nya, kamu akan untung sampai tidakketulungan. Kebaikan-Nya meliputi segalanya, dan sebaiknya kepermihakan adalah kamu yang berpihak pada-Nya, menyerahkan seutuhnya kepada-Nya.

Lalu, apakah kau harus diam dan menerima semuanya? Tidak juga. Allah memerintahkanmu untuk berdoa pada-Nya. Allah menyuruhmu untuk bersangka baik pada-Nya.
Berpikir baiklah. Bersikap baiklah. Semua kebaikan akan meliputimu karena kehendak-Nya. Allahummah shalli’alaa Sayyidina Muhammad wa’alaa ali sayyidina Muhammad

Catatan Ramadhan Hari Ke-5

Sikapmu, menentukan kebahagiaanmu,

Kamu mungkin belum menyadari bahwa kebahagiaan sebenarnya begitu dekat denganmu, hanya saja, kau terlalu sibuk mencari, matamu mengerjap kemana-kemari, padahal ia ada didekatmu, tepat pada sikapmu sendiri.
Bahagia.

Kau bisa mendapatkannya di mana-mana. Termasuk pada sikapmu sendiri, bahasamu sendiri, dan segala sesuatu yang bermuara padamu.
Coba praktikkan, sebab di dunia ini, Tuhan Maha Baik selalu memberimu pilihan-pilihan terbaik. Marah pada sesuatu yang tidak sesuai di kepalamu, atau menyukurinya. Membentak pada sesuatu yang diluar dari keinginanmu atau berkata lembut lalu membiarkan semuanya terjadi. Melihat sinis atau meremehkan orang lain padahal bibirmu masih bisa tersenyum, matamu masih bisa melengkung memesona.

Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan. Sebelum kau membentak, sebelum kau menatap sinis, sebelum semua kelembutan kau sepelehkan, pahamilah bahwa semua orang punya hak seperti kau punya hak u tuk mendapatkan perlakuan baik 🙂

Tanya Diri

Tahukah kau? Saat kau merasa tak berharga, ada orang yang berharap ada diposisimu?
Tahukah kau? Saat kau tak peduli dengan siapapun, ada seseorang yang memanjatkan doanya untukmu?

Tahukah kau? Saat kau merasa tak ada lagi harapan, orang tuamu hanya berpikir kaulah harapannya?

Ketika ada yang mengecewakanmu, tahukah bahwa Allah terus bersamamu? Memastikan yang terbaik untukmu?


Kau terlalu sibuk dengan ketidaksesuaian yang ada di kepalamu. Sibuk dengan dugaan-dugaan yang terus tumbuh dibenakmu. Mondar-mandir dengan segala hal yang sebenarnya tidak terjadi.

Berhentilah menyakiti dirimu sendiri dengan prasangka, hentikan semua kegelisahan yang mengepung hatimu.

Kembalikan semua pada Sang Pemilik Jiwa.

Semoga ramadhan mengembalikanmu menjadi Fitrah.

Memelukmu hinggah tumbuh menjadi hamba yang bertakwa.

Aamiin.

Saya tidak mengenal beliau daripada apa yang saya sangkakan.

Seorang pengemban dakwah yang membiarkan kebenaran yang ia tahu menari dengan bebas bersama pena.
Saya masih ingat kajian yang beliau sampaikan 2012 lalu, waktu itu saya dan Fernizha Mentari Ramli duduk di lantai dua gedung serbaguna Unismuh, dengan nada khasnya menyampaikan sesuatu, ia berkata, “Dasar dari keberanian adalah kebenaran. Maka sulit berani jika itutak benar”

Sumber Foto: tribunislam.com

Di tulisan ini, saya sedikit ingin menyampaikan bahwa gaya tulisan pertama saya, saya dapatkan dari beliau. Setelah benar-benar terjun di dunia kepenulisan, buku yang bertender dalam rak buku hanyalah tulisannya. Jangan ditanya kenapa, karena saya akan kesulitan menjawab itu.

Yang saya tahu, dan yakini sampai saat ini, beliau terjun di dunia dakwah dengan tidak main-main. Menjadikan remaja fokus utamanya hingga melahirkan buku kekinian yang bisa disantap anak muda dengan begitu lezat #UdahPutusinAja misalnya. Buku bercover pink yang begitu mencolok di mata dan makjleeb di hati.
Banyak hal yang terjadi, dan saya mengenalnya di waktu yang tepat. Hal di mana drama-drama hidup mulai kukenali. Kegagalalan, kegalauan, kebahagiaan, kemungkinan-kemungkinan hidup yang tidak pernah kupikirkan tapi terjadi, ah its a complicated year. Ngeri. Tapi karena itu, saya semakin kenal diri sendiri, dan senang dengan tulisan, kajian, vlog, atau apapun yang berkaitan dengan Ust. Felix.
Ustadz, dalam keberanianmu itu, semoga Allah limpahkan berkah dan terus berikan jalan kebenaran, Indonesia butuh lebih banyak orang sepertimu, yang mencintai negerinya dengan berani, dengan cara yang benar.
Tulisan ini terinspirasi dari: artikel http://www.tribunislam.com/2017/05/felix-siauw-jangan-ragukan-cinta-kami-pada-negeri-kami-mencintainya-seperti-rasulullah-mencintai-tempat-lahirnya-makkah.html

Berani-Benar (Ust. Felix Y. Siauw)

Tulisannya Orang

Selamat pagi hari cerah, semangat pagi jiwa yang bahagia.

Sayang, pikiranku sedang dimondar-mandirkan sama tulisan hilang di draft gmail. Hiks. Setelah otak atik ponsel, malah tulisannya si akaks yang di dapat.
Tulisan 2015 lalu, bulan ke sebelas tanggal 15. Walau tulisannya tidak sebagus aku (somboong parah hahaha) biarkan kumasukkan dalam blog bertahtahkan pujian ini. Wkwkw. Maafkan. Aku sedang di fase sombong ketidaktulungan :v

” style=”width: 548.15625px;

Surat Untuk Aleppo

Untuk saudaraku di Aleppo, maaf, aku sibuk.


Di negeri tropis, akhir tahun jadi musim penghujan. Di negaramu, sampai akhir tahun ini, kau masih dihujani peluru dan beberapa sekutunya yang sangat bisa memorak-porandakan rumahmu, memaksamu untuk terlepas dari rasa aman. Atas nama kemanusiaan, doa, donasi, dan postingan bercerita tentangmu. Atas nama kedamaian, kau malah berkenalan dengan rudal, kedamaianmu dijajah lalu menyelimutimu dengan ketakutan.


Postingan tentangmu yang menyeruh kami(aku) untuk membantumu betebaran dimana-mana, namun sayang, aku terlalu sibuk dengan rasa aman yang disediakan negeriku, aku terlalu asik dengan duniaku yang menawarkan masa depan yang baik, dan aku masih terlalu sibuk dengan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sampai membaca dengan detail beritamu pun aku sungguh dikejar waktu.


Tolong, maklumi aku.

Aku saudaramu yang begitu banyak kegiatan. Urusan pribadiku amatlah banyak, semuanya seakan menghantuiku untuk disegerakan penyelesainnya.


Sekali lagi, tolong, maklumi aku.

Kebutuhan pribadiku masih sangatlah banyak, sehingga sulit untuk menyisihkannya untukmu. Jadwalku teramat padat, sehingga kesulitan untuk mendoakanmu.


Ditengah gemuruh, dentuman keras yang sudah terbiasa kau dengar, kau kehilangan rumah, bahkan harus berpisah dengan kakak, adik, atau ayah, atau mungkin ibumu, atau mungkin semuanya? Ah.. saudaraku, kupikir akulah yang harus memintamu, bersujud dihadapanmu untuk meminta didoakan agar diampunkan dosaku yang jadi penyebab bersekatnya kita dalam persaudaraan.


Dari saudaramu, Wirda.

Istri Muda

Istri Muda's Stories | Indonesian | 21 years old

Catatan Perjalanan Hidupku ^^

Karena setiap detik perjalanan hidup adalah pelajaran, dan akan menjadi kenangan yang akan selalu membuatmu bersyukur :)

arianpangestu

Kuasa Tuhan sedang berlangsung

charlozdaniel

"Lelaki yang selalu kagum ketika melihat kau tersenyum"

Lani Utami

Tentang kamu, tentang kita dan tentang mereka

asteaaa

Self Reminder

wirawarawiri

Just follow the GOD and you"ll be the GOOD

Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

ComeDHEY

Setiap Luka adalah Tawa