Category Archives: My Gallery

Reuni & Halal Bihalal SALIS2012

Setelah lima tahun berstatus jadi alumni SMAN 1 Sungguminasa yang katanya sekarang sudah berubah nama jadi SMAN 1 Gowa.
Allah Maha Baik, masih memberi kesempatan untuk kami bisa menikmati nikmatnya pertemuan perdana selama lulus di acara yang cukup memadai untuk kami dipertemukan dengan cara yang lebih baik, dengan orang-orang yang tengah berusaha membaikkan kehidupannya.
Untukmu, sedikit kusarankan untuk tidak melanjutkannya. Kau tahu? Ini akan jadi tulisan yang begitu pribadi. Bukan, bukan tentang “pribadiku” tapi tentang pribadi kami selaku alumnus.
Uhuk uhuk.

Reuni dan Halal Bihalal di Hotel Singgasana 1 juli dengan tema #REMEMBE12 kemarin cukup memuaskan, cukup puas makan maksudnya wkwkwkw. Dari teman kelas satu yang benar-benar pure ketemu perdana sampai teman yang nyaris ketemu setiap bulan juga.

kan sudah kubilang, tulisan ini takkan berfaedah buatmu. Lagi-lagi ini kutulis untuk diriku sendiri. Untuk kuingat dan kuabadikan versiku.

berikut dokumentasi yang sangat minim padahal foto-fotonya banyak :3

Halo 23, hi 22

Pukul 19:23 wita.
Tanggal dua puluh tiga di bulan ke lima. Lagi. Terulang hingga kini genap menjadi ke 22. Alhamdulillah. Allah Maha Baik.
Sekarang, pikiranku sedang kusut dengan tugas akhir yang sedikit lagi akan kukalahkan (semoga – bismillah) wkwkw.


Seperti tulisan sebelumnya. Saya kembali kehilangan sesuatu yang bukan milikku. Usia! Hari lahir selalu mengingatkan hari kematian. Seperti kedatangan, setiap jiwa hanya menunggu waktu untuk kepergian. Pergi menemui rumahnya yang hakiki.

Di usia yang tak muda lagi, apa yang telah kau perbuat? Dan apa yang akan kau perbuat? *tanya diri*
Ya Allah. Jika Engkau masih izinkan aku hidup dalam duniamu, maka izinkan perbuatanku adalah perbuatan yang mendekatkanku pada-Mu. Jika Engkau masih memberi waktu untukku, maka kuatkan aku untuk mendekatkan diri dan terus taat pada-Mu. Sebab jawaban apa yang harus kukatakan kelak, jika usia panjang yang Engkau beri tidak mampu kugunakan untuk mendekati-Mu dengan Benar?

Yaa Rahman Yaa Rahiim. Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkau selalu memberi kasih dalam dalam diriku yang menyedihkan, Engkau pemberi sayang dalam keheningan dosa yang mengepung. Allah, Engkau Maha atas segala kebaikan, dengan kemurahan-Mu, mudahkan aku (yang juga membaca ini) dalam selimut kehidupan yang penuh berkah, bahagia, dan membahagiakan. Aamiin.

Sunrise & Sunset di 26, Rabu

Ini (lagi-lagi) aktivitas tercepatku selain jogging pagi.

Untuk kamu dan dia (re: hari ini dan matahari) yang menyebalkan sekaligus menyenangkan. Aku suka!
Pada tatap belagumu diufuk timur yang mulai terbit, kau menemaniku menuju kompas tv untuk promo buku #diary7kurcaci.

Pukul 08:00 di tabletku, aku bersemangat mengarungi macet, mengalahkan jarak menuju Samata. Tak lain dan tak bukan untuk melihat teman “ndalangg” ujian hasil. -jangan tanya saya kapan-  kau tidak pernah tau ushaaku untuk keluar dari lembah itu T.T  -ets sudah.
Pada tatap tajammu, kau masih tak ragu menerangi jalanku ditengah hari. 14:19 wita. Sedang kamu masih seperti itu, menemaniku dengan mata elang siap menyergap. Fanas feroooh.
Warkop Ammaca. Penulisan Kreatif ala Kurcaci di Buku Diary 7 Kurcaci.

Tips menulis. Ini wajib kalian ketahui. Etsss, sebelum itu, aku mau mengucapkan terimakasih yang pertama, buat owner Warkop Ammaca, Kak Yusuf yang sudah memfasilitasi. Teman-teman yang menyempatkan hadir, mc guaaah yg “nganu” sekali jugaaakk, laafyaaa, daaaaaaan tak kalah menggirangkannya -ini bahasa apa- untuk hampir 1000 viewers yang nonton di live IG aaaah makasiiih yaaaakkk💕

Srikandi d7k


Okay, kembali ke tips menulis ala kurcaci keempat #uhuk @dardawirdhaa

Pertama, pastikan kamu punya alat tulis

Kedua, pastikan kamu punya pikiran

Ketiga, ketika kamu punya keduanya, coba cek perasaanmu, apa baik? Kau tidak punya perasaan? Jangan khawatir, coba cek pikiranmu, apa baik? Kau tidak punya pikiran? Daebak! Kamu pantas jadi penulis.

Heh! Kok? Setidaknya aku percaya kamu #ciee percaya karena hanya orang yang ingin jadi penulislah yang baca tips ini sampai di kata ini :V h a h a

Keempat, menulis sajalah! Jangan banyak mikir.

Kelima, selamat menulis. Wkwkwkwkwkwkkwkwkwkwk.
18:08 wita. Aku pulang pada teduh mata(hari) yang menyipit di ufuk barat. Kamu tahu makassar yakan? Ini bukan soal begal. Sejatinya Ayahku lebih menakutkan dari itu #eh *sungkem Ayah* i love you. Hahaha.
ALHAMDULILLAH. Untuk hati yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Aku suka.

Senin Pagi

Senin Pagi di Desaku
Suara kambing memecah ketenangan pagiku. Di ujung sana, ada seekor, hmm.. dua ekor barangkali, ah entahlah. Dia teriak seakan butuh bantuan. Suara kokok ayam saling bersautan di mana-mana. Rumah warga cukupsaling berdekatan, kecuali tempayku duduk saat ini. Senandung burung masih berkicau dengan merdu, suara jangkrik juga. Ah kampung, kau begitu kampuangan tapi selalu berhasil membuat orang yang mengaku anak kota ini rindu.
Haccciii. Bersinku diikuti asap yang keluar tanpa permisi dari mulutku. Ya, suhu dipagi ini 19°. Pastinya tidak akan sama dengan suhu AC yang sering kita jumpai di ruangan perkotaan. Dingginnya mengetuk-ngetuk tulangku.
Khayalanku melambung tinggi bersama kenangan di sudut jalan itu, eh.. genangan.

Kenangan dan genangan punya sekat tipis, walau di keyboard butuh dua langkah huruf untuk saling menyapa (h dan j). Kenangan, ah, kenangan.
Ia menggelitik pikiranku hingga sampai detik ini aku masih betah menuliskannya.
Masa kecilku di sini. Hidup bahagia dengan keempat saudara (waktu ini Seza belum lahir), satu sepupu, ayah, ummi, dan dato (panggilan nenek). Hidup bahagia di masa kecil yang tak kenal gadget. Lompat tali, main dende (ini bahasa indonesianya apa yak :v), main rumah-rumahan yang uangnya dari daun bunga-bunganya ummi, sampai berakhir kalau pohonnya sudah tak berdaun, Ummi pun teriak-mengomel. Hahaha.
Masa sekolah dasar kuhabiskan di sini, menikmati ritme kebahagiaan ala anak kecil yang tidak paham problematika orang tua, dan apapun di sekitar. Benar. Aku jadi anak kecil yang pure sebagai anak kecil. Aku tidak perlu membuat makalah kanker serviks sebagai tugas mata pelajaran biologi di kelas 5 atau 6. Aku hanya harus bersekolah senin-sabtu, mengaji di waktu sore, lalu bermain sepuasnya. Di sini aku merasa beruntung tapi buntu. Hahaha. Yang kupercaya, jika Ayahku ada, semuanya akan baik. Aku anak Ayah yang tak pernah berpisah.
Pukul 07:04 di tabletku. Kau tak usah khawatir menyoal dapur. Aku adalah perempuan (penulis) paling beruntung seantero Malakaji. Ummiku adalah orang paling pengertian yang ada di muka bumi ini. Tak pernah menggagu imajinasiku saat jariku mulai menari diatas tebi atau lepi (ini panggilanku untuk tablet dan laptop berwarna putihku).
“Yaaaang..” suara cempreng itu membuyarkan khayalanku. Aku membalikkan wajah lalu tersenyum. Perempuan dengan baju hangatnya mendekatiku dengan membawa anak kecil gempal berpipi pakbao yang selalu berhasil kubuat menangis karena menyubiti seluruh tubuhnya.
Dia adalah sepepu yang kutuliskan tadi. Sepupu yang telah bersamaku tinggal di sini. Sepupu yang kuhabiskan masa kecilku dengan menyusakan dirinya. Hahhaa. Untuk ini, maafkan. Semoga dengan menuliskanmu bisa jadi penebus. Setidak-tidaknya tentang keberadaanmu di dunia jadi terabadikan. Hahahha. Namanya kak Tenri. Lebih sering di panggil bonda iting. Wkwkw.

Seperti utulah dia. Datang hanya merusak konsentrasiku lalu pergi meninggalkan dalam kesendirian. Pft.
Aku kembali menyatu dengan alam. Sekarang 07:26 wita, suhu menjadi 20°. Hanya beda satu derajat tapi kurasa ini lebih dingin, apa karena kau tak ada di sini, kak? Eh!!! Kakak siapa??? Kak tenri? Iyuuh-_- *mulai ngawur. Brrr.
Di sini, senin jadi hari temu warga seantero Malakaji, semua yang ada di pelosok-pelosoknya jadi bekumpul di satu tempat untuk membagi-bagikan uangnya. Huoooo sebut itu pasar. 

Sinar matahari telah tak malu menampakkan dirinya tepat di wajahku, suara kendaraan telah berhasil memecah riuh alam secara alami, dan aku sudah sejam berada di luar rumah. Perutku bersiap dengan konsernya. Aaaah, ada yang mulai lapar. Ayo hentikan semua ini sebelum negara cacing mulai rese.

Tungguuuu duluuuu. Satu paragraf lagi.

Ehm. Terkadang, kau butuh kembali ke tempat yang mengingatkanmu ke masa lalu. Bukan untuk menangisinya, tapi sebagai tanda kau pernah hidup dan ada di sana, Allah bekerja dengan sangat baik dari dulu-sekarang, memastikan kebaikan dan keberkahan melimpah-Nya meruntuhi kepalamu. Sampai kau ada di sini, untuk berbahagia dan lagi-lagi diwajibi rasa syukur. 

ALHAMDULILLAH.

Allahummah shalli’alaa Muhammad wa’alaa Ali Muhammad.

Buku Ke-3

Diary 7 Kurcaci itu buku yang baru saja keluar dari ide para penulis @kolaborasi.puisi reg. Makassar yang berhasil dikeluarkan dari rahim #NasMediaPustakaPenerbit dengan selamat dan berbahagia.
Naskah ketiga yang berhasil jadi kumpulan kertas yang kita sebut buku. Ya, Alhamdulillah. Itu buku ketigaku!

” style=”width: 548.15625px;

Catatan Kecil untuk Adik dan Anak Kecilku

Catatan Kecil untuk adik dan anak kecilku,

Wadyah Seyza Hasfi, Aisyah Thahirah, Asiyah Humairah dan Arifah Maryam -(juga saya, yang masih [dan selalu] berstatus anak).

” style=”width: 548.15625px;

Ummi, Ayah

Bagaimana kutuliskan pesan cinta padahal kalian adalah cinta itu sendiri?
Pagi jadi berjalan begitu biasa, sebelum kuterima pesan singkat yang menerangkan orang yang dicintai bersama dalam kebahagiaan, peluk kehangatan, saling menjaga dalam kebaikan.

 

Selamat tanggal 12, Ummi. Ini tahun pertama kita tidak sama saat Ummi berulang tahun walau memang tak ada perayaan atau kado spesial, lagi dan lagi, hanya doa yang bisa kuberikan, Mi, izinkan doa itu seperti busur panah yang selalu kulepaskan untukmu, juga untuk Ayah.
Ayah dan Ummi..

” style=”width: 548.15625px;

4 feb ’17

Ada hal yang tidak bisa tertolak, salah satunya mengendalikan alam bawa sadar yang terealisasi jadi mimpi.

Ah! Malamku entah akan kunilai apa karena telah memimpikanmu. Tapi, sudahlah, aku tak ingin membahasnya. (Mimpi makan durian, padahal teman makan durian (re: ummi) berangkat umroh).
Tidurku seperti biasa, sangat pulas jika di kamar sendiri. ALHAMDULILLAH. Tablet dan ponselku ada di ruang mushallah untuk ku-charge dan lupa mematikannya sebelum masuk ke kamar untuk tidur. Jadilah aku sebagai orang yang lagi-lagi menjadi alasan keterlambatan.
“shalat di bandara saja. Masjidnya bagus” kataku. Malam, saat perbincangan keberangkatan Ayah Ummi. Semuanya mengangguk. Kami menyetujuinya. Tempat tepat untuk shalat, selain bersih dengan ornamen yang cantik, ia juga harus di tempat strategis dengan parkiran yang bersahabat. (*yang ini ga usah dibahas, keles! Okay. Maaf)
04:15 wita. Suara ketukan sudah cukup mampu mengagetkanku dan terhindar dari makan durian yang tadi kutuliskan. Suara ummi juga mengiringinya, “sudah siap, ayo..”

mataku terpenjat, semua orang di rumah sudah terbangun sedang saya masih menikmati empuknya tempat tidur. Ah!

Iya..!” Kataku menekan rasa bersalah, lalu dengan cepat ke kamar mandi untuk mencuci muka.
Tak ada suara bising kendaraan, udara masih sangat sejuk untuk dihirup dalam-dalam. Kami (sekeluarga) menuju mobil yang  sudah terparkir siap pakai di depan rumah.
Jalan masing lengang. Dan sebentar lagi adzan subuh bergema dimana-mana. Kami menyetujui untuk shalat di Masji HM. Asyik, di AP. Pettarani, Makassar.

Entah pukul jam berapa, kami sampai di bandara. Rame. Rame banget. Rame sumpah. Ini pagi pertamaku ke bandara dengan situasi seperti ini. Gila rame! Tapi, sudahlah, ini tak ingin kubahas.
Ohya, untuk blogger, kalau pengen nulis dengan genre cem gini, usahain kangsung tulis yak! Jangan suka nunda. Karena perasaan bisa berubah. Saat berubah, kamu udah sulit untuk ngungkapinnya. Unch:v

Foto bersama. Alhamdulillah Formasi lengkap, sehat, bahagia semuanya 🙌

Alhamdulillah wa syukurilah. Kami bersaudara bisa nganter Ayah Ummi. Rame sih emang, tapi, kebersamaan, nilai sama-samanya ga bisa disamain dengan kebersamaan lainnya.
Angin bertiup seperti biasa, dingin. Air dari langit yang disebut hujan seakan menyambut kami. Aroma haru mulai menyergapku.

Ummi pamit ke Asiyah

Ayah pamit ke Seyza

Ayah Ummi menuju rombongan

Dan, semuanya terasa biasa sebelum acara pamit-pamitan dimulai. Aroma-aura haru seketika menyelimutiku. Ayah, Ummi, semoga kalian sehat, sampai ditujuan dan sampai ke-makassar lagi dengan selamat, bahagia, dan sehat lahir bathin. Aamiin ‘allahummah aamiin.

Seberapa bahagia pun alasan kepergian, ia akan tetap menyisahkan air di mata.


-maaf, tulisannya acak-acakan.

Graduation Maysa IV – 2017

Terkadang, kita keluar dari kesulitan lain kemudian masuk dikesulitan lainnya. Setelah terpaksa terbangun, sekarang saya lagi-lagi dipaksa untuk bangun. Dengan sedikit tenaga, kuraih ponsel yang ada di meja rias kemudian menyalakannya. Di sana, terlihat angka 05:25.

Anak muda, bergegaslah! Kataku, menyemangati diri sendiri.

I’m be a Master Of Ceremony in Maysa’s event

@dardawirdhaa with @nonaafiah

Apa saya langsung berada di tempat ini? Memegang mic dengan penampilan dan make-up yang seketika tertempel di tubuh? Tentu tidak! Saya harus menyemangati diri sendiri, harus berjuang melawan kantuk, lalu bersiap-siap menuju lokasi.
Jalan terlihat begitu biasa, hingga menemui deretan mobil yang membunyikan klaksonnya tanda sedang kesal. Ah! Macet.
Saya masih tabah hingga kehausan, kuraih tupperware merah berisi air yang sudah kusiapkan dari rumah. *apa ini penting untuk kutuliskan? Sebenarnya tidak. Tapi sudahlah, buat saya bahagia dengan menuliskannya.
Suasana kemudian berjalan seperti semula, kendaraan padat tapi tidak ngadat (re:ramai lancar). Jalan.. kemudian jalan.. lalu salah jalan. Uh! Saya dibodohi maps, atau saya yang bodoh menggunakan maps? *skip zzzzzzzzz


Ini pertama kalinya saya berada di tempat ini, sedikit menengok kiri-kanan dengan wajah yang sedikit di-stel supaya tidak kelihatan dungu-nya. Hahahahhaa.  Bagus! Saya melangkah menuju lantai 2, disambut pelayan yang mengucapkan selamat datang.
Sebelum bertanya soal di mana perempuan yang sejenis saya (re: agak menor jika hanya buat kongkow di cafe) si mbak-mbak berwajah manis itu dengan mata yang sedikit menyipit karena senyum menunjuk kearah pintu masuk yang ber-tiraikan kain tebal berwarna hitam, “ruang VIP ada disana, mbak.” Katanya. Saya membalas senyumnya (*sejatinya saya pembalas senyum yang mahir *eiihh) mengucapkan terimakasih lalu beranjak ke tempat yang di tunjukkan.
Time flies………..

Foto bersama Speaker dan Mentor setelah penyematan kategori “the Best” dan penyerahan sertifikat MaysaIV

Welfie muslimah inspiratif kota Makassar ❤

Dalam keterbatasanku, saya dipercayakan menjadi pembawa acara di acara penting ini. Acara penamatan sebagai siswi di Maysa Muslimah Entertainment Course angkatan ke-4 setelah kepercayaan pertama dipilih menjadi mentor  Manner

Lagi-lagi, Allah Maha Baik. Memberi kesempatan untuk bisa bertemu langsung dengan orang yang luar biasa baiknya. Mereka audah sangat bisa buat saya speechless bukan kepalang dibuatnya. Proses, pilihan dan tekad yang baik. Selain itu, tidak hanya penampilannya, manner dan prestasi mereka luar biasa baik. MasyaAllah.

Terimakasih sudah menginspirasi saya, kak Anggun (model profesional), kak Imhe (miss muslimah world), kak Andi anti (founder, Jameela Hijab Community), kak Prima (art, putri muslimah), kak Qiah (founder maysa), kak Gadis (my favorite tundem in Manner Mentors), and all maysa❤

Workshop & inspiring talkshow “Golden Talent Muslimah Makassar” sekaligus Graduation Maysa IV di Potato Cafe, 2nd Floor Hotel Gahara. Sabtu, 28 januari 2017.

casting2

Tepat pukul 23:17 di tabletku (lagi). Ah, sepertinya ini benar-benar jadi tempat curhatan paling baik. Dan moodku paling sempurna untuk kuceritakan. Banyak moment terganti begitu saja tanpa kutulis karena moment dan moodnya tidak tepat. Moment dimana saya telah sangat capek, dan mood untuk tidur lebih besar daripada mood untuk menulis.
Okay, kembali keniatan awal. Sekitaran dua jam lalu, saya mendapat chat dari kak widya (teman menunggu casting, tadi). Ih! Anaknya humble banget, ketjeh. Adiknya sebagai panitia, dia kenal hampir semua panitia -tadi. Dia ditemani temannya, eh, atau keluarganya? Entahlah. Tapi, dia juga baik. Baru saja meminta idlineku di DM-ig. Kembali ke-chat kak widya yak. “Wirda dapat telfon?” Tanya kak widya. “Belum kak, pengumumannya sudah ada?“. Okay, bisa kupastikan ada, dan bisa kutebak dia baru saja menerima telfon. Dan saya? Ah tidak. “Saya disuruh kesana jam 10. Mungkin wirda belum dihubungi.” Balasnya. Bisa kutebak untuk sekadar menghiburku. Okay, beberapa jam telah dilewati, maka agak kurang wajar jika menelfon ditengah malam. Kuputuskan kumatikan handphone-ku. Saya sudah pasrah. Saya cukup yakin bahwa tidak ada panggilan -lagi untuk orang yang bernama wirda. Masalah? Ah tidak juga. Galau? Mungkin iya. Tapi, akan menggalaukan jika saya bekerja sedang pikiranku ada di rumah untuk menyelesaikan proposal, masalah grapik, buku ketiga, dan sebagainya. Allah itu Maha Baik. Selalu memberi tempat dan kesempatan Baik untuk hamba-Nya.

Jika malam ini saya menulis dengan motif kegalauanku tidak mendapat telfon dari pihak panitia casting. Bisa kupastikan, menerima telfon untuk panggilan pun akan tetap menggalaukanku karena banyak kewajiban yang teriak meminta diurus.

Hahahaha. Okaylah, selamat menyelesaikan semua tugas-kewajiban. Negara butuh baktimu! Agama butuh dipelajari. Eih.. saya yang butuh pelajari Agama. Toh, agama tanpa saya tidak apa-apa, sedang saya tanpa agama? Bukan apa-apa.
Semangat!!!

Realitas sebenarnya ada pada yang sudah kamu iyakan. Semangat bekerja! Selesaikan apa yang sudah dimulai!!!

-proposal -grapik -buku -maysa.

Istri Muda

Istri Muda's Stories | Indonesian | 21 years old

Catatan Perjalanan Hidupku ^^

Karena setiap detik perjalanan hidup adalah pelajaran, dan akan menjadi kenangan yang akan selalu membuatmu bersyukur :)

arianpangestu

Kuasa Tuhan sedang berlangsung

charlozdaniel

"Lelaki yang selalu kagum ketika melihat kau tersenyum"

Lani Utami

Tentang kamu, tentang kita dan tentang mereka

asteaaa

Self Reminder

wirawarawiri

Just follow the GOD and you"ll be the GOOD

Biru Pupus

Audhina Daw |dawai kata dalam kalimat

ComeDHEY

Setiap Luka adalah Tawa